Selasa, 18 Maret 2014

Camelia Sang Merpatiku



Burung Merpati Pujaan ku
terbang kesana kemari.
  katanya sang angin begitu
  di dalam isu.

cantik wajahmu,
merah paruhmu,
bening matamu,
serta indah tubuhmu

  menarik untuk ditarik
  mengundang untuk di undang
    
     undangan adalah kehormatan
     tapi mengapa kau terlena dengan jamuan.

Camelia sang merpatiku :
dikau bermain dibeberapa gelanggang
atas nama asmara.

   gelanggang asmara
  adalah gelanggang dewa dewa bertopi pujangga.
bermain kata kaka
untuk mendapatkan isi dada.

entahlah..
bagaimana nasib isi dadamu

Aku yang mendengar kabar itu:

 di hina cinta yang belum kutaungkan
ke telingamu.
 terhianati tampa janji
  cemburu tampa kau tau
     terdiam membatu

   diam bukanlah diam
   hanya mendiamkan hati yang runtuh
 reruntuhannya menindih tubuhku.

sakit sunggu sakit
 kecewa aku kecewa

beruntung tenaga
masih tersisa
  walau untuk sekedar membalut luka.

Waktu berjalan dengan semu.
tongkat tongkat takdir menopangku.
membawaku pada “sembuh”

ahahahaaa hahhaa
tawaku bangkit dari kuburnya
    membingkai bibir,
     meringankan langkah
  memberi warna pada mata

aku berjalan seperi di atas pelangi
bukan pelangi bidadari
    melainkan:
pelangi purba yang bangkit kembali.

Siang dan malam
  menghalau tak bosan.
Entah setelah beberapa musim,

 tampa angin
  tampa hujan
   tampa badai
bahkan tampa salam.

Kau si burung merpati
 datang kembali dalam sendiri.
Sayap indahmu
menggusurku ke surga
  aku bahagia.
 ku ihlaskan cakarmu
  yang dulu merobek dada tampa sengaja.

Ahahha ahahhaa
 tawaku terpacu,
   keberanianku mengebuh gebuh.

Dan Ku hidang cinta di piring jenaka.
kau tertawa:
   entah;
 kau suka atau tidak
    yang ku tau;
 kau tak percaya.

burung merpatiku,
cicipilah,
lidahmu pekakanlah,
sebab cinta hanya bisa rasa.

Gila Azhar Makaroda
(GAM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar