Burung Merpati Pujaan ku
terbang kesana kemari.
katanya sang angin
begitu
di dalam isu.
cantik wajahmu,
merah paruhmu,
bening matamu,
serta indah tubuhmu
menarik untuk
ditarik
mengundang untuk di
undang
undangan adalah
kehormatan
tapi mengapa kau
terlena dengan jamuan.
Camelia sang merpatiku :
dikau bermain dibeberapa gelanggang
atas nama asmara.
gelanggang asmara
adalah gelanggang
dewa dewa bertopi pujangga.
bermain kata kaka
untuk mendapatkan isi
dada.
entahlah..
bagaimana nasib isi dadamu
Aku yang mendengar kabar itu:
di hina cinta yang
belum kutaungkan
ke telingamu.
terhianati tampa
janji
cemburu tampa kau
tau
terdiam membatu
diam bukanlah diam
hanya mendiamkan
hati yang runtuh
reruntuhannya
menindih tubuhku.
sakit sunggu sakit
kecewa aku kecewa
beruntung tenaga
masih tersisa
walau untuk sekedar
membalut luka.
Waktu berjalan dengan semu.
tongkat tongkat takdir menopangku.
membawaku pada “sembuh”
ahahahaaa hahhaa
tawaku bangkit dari kuburnya
membingkai bibir,
meringankan langkah
memberi warna pada
mata
aku berjalan seperi di atas pelangi
bukan pelangi bidadari
melainkan:
pelangi purba yang bangkit kembali.
Siang dan malam
menghalau tak bosan.
Entah setelah beberapa musim,
tampa angin
tampa hujan
tampa badai
bahkan tampa salam.
Kau si burung merpati
datang kembali dalam
sendiri.
Sayap indahmu
menggusurku ke surga
aku bahagia.
ku ihlaskan cakarmu
yang dulu merobek
dada tampa sengaja.
Ahahha ahahhaa
tawaku terpacu,
keberanianku mengebuh
gebuh.
Dan Ku hidang cinta di piring jenaka.
kau tertawa:
entah;
kau suka atau tidak
yang ku tau;
kau tak percaya.
burung merpatiku,
cicipilah,
lidahmu pekakanlah,
sebab cinta hanya bisa rasa.
Gila Azhar Makaroda
(GAM)
(GAM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar